Eksperimen Marshmallow dan Janji-janji Allah SWT
Oleh: M.IQ,
8 Agustus 2017.
Bagi akademisi psikologi,
mungkin tidak asing lagi dengan sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Walter
Mischel, seorang Profesor Psikologi dari Universitas Stanford pada tahun
1960an, yaitu sebuah eksperimen yang terkenal dengan sebutan “Marshmallow
Test”. Eksperimen tersebut berusaha mengasosiasikan dua variabel, yaitu
perilaku menunda kesenangan (delay gratification) pada anak-anak dengan
kesuksesan hidupnya di masa depan.
Pada eksperimen tersebut,
diletakkan sebuah marshmallow dihadapan seorang anak, lalu peneliti mengatakan
pada si anak bahwa ia boleh memakannya setelah peneliti meninggalkan ruangan.
Akan tetapi dikatakan pada anak tersebut jika ia bisa tidak memakannya selama
peneliti pergi sekitar 20 menit, maka anak tersebut akan mendapatkan satu lagi
marshmallow tambahan sebagai bonus karena mampu menahan.
Hasilnya, sepertiga dari subjek
penelitian langsung memakan marshmallow yang ada dihadapan mereka seketika
peneliti pergi meninggalkan ruangan, lalu sepertiga lainnya mampu menahan
selama 20 menit untuk mendapatkan marshmallow tambahan, dan sisa lainnya hanya
mampu menahan untuk sementara saja sampai akhirnya menyerah dipertengahan jalan
dan memakan marshmallow.
Setelah 14 tahun berlalu,
ketika anak sudah mulai beranjak dewasa, mereka dicari kembali satu persatu dan
diuji kembali dalam beberapa aspek, dan ditemukan bahwa anak-anak yang dulunya
mampu menahan untuk tidak memakan marshmallow selama 20 menit cenderung lebih
meraih keberhasilan akademik di masa depannya, serta juga ditemukan lebih baik
dalam aspek asertifitas diri (ketegasan), dan lebih kompeten dalam berhubungan
sosial. Sedangkan anak yang langsung memakan marshmallow tanpa mampu menahan
barang sebentar, ditemukan mempunyai self-esteem yang rendah di masa depannya,
dan sulit untuk berhubungan dengan teman sebaya dan bersosial di masa depannya.
Mungkin jika ada yang bertanya
kenapa harus marshmallow? Sempat menjadi pertanyaan saya juga. Tapi kira-kira
mungkin karena marshmallow rasanya manis, dan sesuatu yang manis cenderung
banyak disukai oleh anak-anak pada masa itu di Amerika. Justru ini-lah yang
membuat hal ini semakin menarik, karena anak-anak yang mampu menunda kesenangan
untuk mendapatkan kesenangan yang lebih banyak yaitu mereka yang mampu tidak
memakan marshmallow selama 20 menit tersebut adalah sesuatu yang luar biasa.
Mereka masih anak-anak, lho. Tapi sudah bisa berpikir secara kognitif bahwa
jika ia mampu menahan keinginannya selama waktu tertentu, maka ia mendapatkan
lebih banyak kesenangan.
Intinya pada eksperimen ini
bisa diungkapkan bahwa jika mau menunda kesenangan untuk waktu yang sementara,
sedangkan kita yakin bahwa ada kesenangan yang lebih banyak menanti kita jika
berhasil menunda, maka kitalah orang yang berhasil di masa depan.
Eksperimen Walter Mischel
tersebut menuai banyak pujian dari berbagai kalangan, dan dianggap menjadi salahsatu
eksperimen behavioral yang sukses mengungkap proses mental manusia dalam
kaitannya dalam menunda kesenangan.
Nah, poin yang saya ingin
tekankan adalah berkaitan dengan menunda kesenangan untuk mendapatkan
kesenangan yang lebih besar nantinya. Disinilah menurut saya yang menjadi
menarik. Hasil eksperimen tersebut sangat mendukung kehidupan kita, kaum
beragama, khususnya kalangan Muslim. Yang percaya bahwa dunia ini hanyalah
kesenangan sementara, sedangkan jika kita mampu menahan berbagai kesenangan dunia,
dan tidak terlarut dalam kesenangan tersebut, maka di akhirat nanti kita akan
dihadiahi kesenangan yang jauh berlibat ganda di surga-Nya, dan inilah yang
disebut kemenangan dan kesuksesan seorang manusia.
Bagaikan anak kecil pada
eksperimen marshmallow, kita manusia adalah anak kecil yang dihadapkan pada
beragam kesenangan dunia yang sangat mudah diakses secara bebas saat ini. Kita
bebas melakukannya, entah itu dosa kecil, sedang, atau berat. Semuanya sudah
mudah untuk dilakukan saat ini. Jika kita dengan gampangnya merasakan semua
kesenangan dunia, dan tidak tahu batas mana yang halal dan haram, maka kita
tidak ada bedanya dengan anak yang diberikan sebuah marshmellow dihadapannya
dan serta merta langsung memakan marshmallow tersebut secara lahap tanpa
berpikir jika saja ia mau menahannya barang waktu sekedar 20 menit, maka ia
mendapatkan marshmallow tambahan. Rugilah ia. Karena secara gamblang sudah
dikatakan oleh peneliti bahwa janji itu akan dipenuhi kalau ia mampu menunggu
20 menit. Ini agaknya seperti janji-janji Allah dalam Al-Quran dan melalui
lisan Nabi Muhammad S.A.W. bahwa ada banyak pahala dan balasan surga yang tak
tanggung nikmatnya, tak terbayang oleh mata, dan tak terpikirkan oleh logika,
jika kita mau menunggu dan menahan banyak kesenangan dunia selama kita hidup di
dunia yang sebentar ini.
50 tahun? Atau 60 tahun? Ibarat
hanya setengah jam jika dikonversi dalam waktu akhirat. Beda 10 menit saja kan
dari waktu yang diberi peneliti untuk anak dalam tes marsmellow yang cuma 20
menit?
Mari merenung sejenak.
Komentar
Posting Komentar